laeda

Jumat, 01 Juni 2012

Warto Opini


Tugas

OPINI
(Kaum Intelek yang Tidak Intelektual)

OLEH

WARTO
A1D1 07156



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010
KAUM INTELEK YANG TIDAK INTELEKTUAL
Kampus merupakan suatu komunitas orang yang intelek yang bila suatu saat nanti bila keluar akan menjadi panutan masyarakat.  Dikatakan masyarakat intelek karena dengan ilmu yang diperoleh dari puluhan tahun mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) sampai pada Perguruan Tinggi (PT) dan sudah saatnya mentransferkannya kepada masyarakat terutama melalui bangku pendidikan. Masyarakat yang telah melalui suatu perguruan tinggi pantaslah disebut sebagai mahasiswa. Maha yang ada di dunia hanya dua yang diakui yaitu hanyalah mahakuasa dan mahasiswa. Ke-maha-an yang disandangnya itu, mahasiswalah memberikan keteladanan hidup bagi masyarakat yang membutuhkan.
Ketidaknyamanan/gangguan yang terjadi di kampus Bumi Tridharma, Universitas Haluoleo belakangan ini dapat dijadikan  pelajaran yang tidak lain untuk mahasiswa itu sendiri kerena sebagai masyakarat kampus harus mempertanggungjawabkan di mata public karena public yang menilai semuanya. Sebagai lembaga yang mencetak masyarakat intelek, kampuslah suatu ajang perlombaan menuju ke arah perbaikan moral dan akhlak. Jika kampus sudah tercoreng di mata public maka citra kampus yang sudah puluhan tahun dibina akan sirna keharumanya laksana pepatah “Panas Setahun Dihapus Oleh Hujan Sekali”.
Kehadiran preman dalam kehidupan kampus menggambarkan bahwa lemahnya mahasiswa itu sendiri sebagai masyarakat intelek yang tidak intelektual. Jika ditinjau dari sisi kacamata luas, masuknya preman dalam dunia kampus karena tidak lain karena ada hubungan antaramahasiswa dengan preman. Pantaskah mahasiswa disebut sebagai preman atau teman preman? Keterlibatan preman dalam kampus karena masalah internal kampus dalam mengikutsertakan preman dalam kegiatan kampus.
 Kehadiran preman ini menimbulkamn pertanyaan baik dikalangan masyarakat luar maupun masyarakat dalam kampus ”Pantaskan kampus memelihara preman dan untuk apa preman itu?” Pertanyaan ini membutuhkan jawaban dari semua pihak terutama mahasiswa kampus sebagai masyarakat intelek. Jika masyarakat kampus rusak maka masyarakat luar kampus terutama generasi muda yang suatu saat nanti mengenyam dunia kampus akan rusak pula bila kebiasaan yang terjadi belakangan ini tidak diabadikan.
Dengan demikian, ketidaksadaran mahasiswa dalam melakukan aksi yang sempat merusak fasilitas negara merupakan target, tindakan yang pantas diambil seorang pempimpin dalam dalam hal kepemimpinan untuk mengembalikan citra kampus di mata public. Adanya skorsing terhadap mahasiswa yang terbukti melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja dalam dunia pendidikan karena pendidikan mempunyai motto memanusiakan manusia terutama  melalui bangku pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar