La EDA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada hakitanya sebuah
karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fiksi, misalnya
cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas
dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya,
pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan
moral bagi kehidupan manusia.
Sebuah pendapat menyatakan
bahwa karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi
pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya.
Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen,
novel, dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui tokoh-tokoh ceritanya.
Meskipun demikian,
karya sastra yang diciptakan pengarang kadang-kadang mengandung subjektivitas
yang tinggi. Seperti dikemukakan oleh Siswantoro berikut ini.
Imajinasi yang
tertuang dalam karya sastra, meski dibalut dalam semangat kreativitas, tidak
luput dari selera dan kecenderungan subjektif, aspirasi, dan opini personal
ketika merespons objek di luar dirinya, serta muatan-muatan khas
individualistik yang melekat pada diri penulisnya sehingga ekspresi karya
bekerja atas dasar kekuatan intuisi dan khayal, selain kekuatan menyerap
realitas kehidupan. Itulah sebabnya di dalam sebuah cerita, cerpen atau novel,
seorang pengarang sering mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan
harapan para pembaca dapat mengambil hikmah dari fenomena tersebut.
Kejujuran merupakan budaya. Ia lahir sebagai
sebuah sifat dasar yang timbul dari pemikiran dan kesadaran seseorang.
Mempertahankan sifat dasar ini bukanlah hal yang mudah. Karena seringkali
kekejujuran tersebut justru membawa kepahitan dan rasa sakit. Dalam drama Sepasang Mata Indah Karya Kirdjomuljo,
sama sekali tidak diungkap pahitnya sebuah kejujuran. Tapi sebaliknya,
Kirdjomuljo dalam proses kreatifnya sebagai penulis justru ingin menyampaikan pesan
bahwa kejujuran pasti membawa hikmah melalui tanda-tanda dalam drama yang
ditulisnya. Secara tersirat, Kirdjomuljo dalam kesahajaannya sebagai seorang
penulis drama ini sekaligus ingin menyampaikan kritik sosialnya seputar
masyarakat kita. Sebuah peringatan pada masyarakat budaya timur akan kekentalan
budaya dan adat, meski sekarang ini mulai terkikis oleh perkembangan zaman.
Sapasang Mata Indah adalah refleksi bahwa budaya dan sifat jujur seperti yang
dimiliki oleh tokoh utamanya akan membawa hikmah dan hasil yang baik.
Sebagaimana
puisi, drama sebagai karya sastra juga memilki sifat dasar teks, yang menyatakan
bahwa sesuatu hal yang disajikan berarti lain. Termasuk pula Sepasang Mata Indah Karya Kirdjomuljo yang
memiliki system tanda yang perlu di analisis. Jika kemudian dapat
teraktualisasi secara lugas, tentunya dapat menginspirasi,memotivasi,bahkan mengubah
suasana hati seseorang. Pemilihan Sepasang
Mata Indah Karya Kirdjomuljo untuk dianalisis dalam makalah ini,didasarkan
pada relita bahwa drama ini merupakan refleksi dari realitas masyarakat kita.
Didalamnya tentu terkandung makna-makna filosofis yang dapat menginspirasi
pembacanya. Secara tersurat kita dapat mengetahui bahwa Sepasang Mata Indah Karya Kirdjomuljo menggambarkan tentang seorang
pemuda dan gadis yang terjebak dalam masalahnya masing-masing. Selain itu
tentunya terdapat simbol-simbol dan lambang yang maknanya bersifat tersirat,
utamanya yang berkaitan dengan budaya kejujuran sebagai hal yang cukup nampak. Untuk
itulah melalui frame optik Semiotika Riffaterre, Sepasang Mata Indah Karya Kirdjomuljo ini
akan dianalisis lebih dalam, sehingga simbol-simbol yang ada dapat digali,
dimaknai dan dijabarkan secara gamblang,agar pemaknaannaya pun dapat dipahami
oleh masyarakat awam.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut.
“Bagaimanakah budaya kejujuran yang membawa hikmah dalam
drama Sepasang Mata Indah Karya
Kirdjomuljo yang dikaji dalam pandangan Semiotik Riffaterre?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai
dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, tujuan penelitian ini
sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan budaya
kejujuran membawa hikmah dalam drama “Sepasang Mata Indah” karya Kirdjomuljo
yang dikaji dengan pendekatan Semiotik Riffatere
D. Manfaat Penelitian
1) Manfaat Teoretis
Dengan
adanya penelitian ini diharapkan dapat memahami teori-teori tentang karya
sastra, terutama analisis drama melalui bingkai pendekatan semiotic Riffatere.
Dengan demikian dapat memberikan kontribusi tambahan dalam hal ilmu pengetahuan sastra dan mengenai pengkajian drama.
2. Manfaat
Praksis
Dengan
adanya penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan pembaca terhadap analisis
drama melalui bingkai pendekatan semiotik Riffatere sehingga
dapat menambah wawasan untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Semiotik didefinisikan oleh Ferdinand de
Saussure di dalam Course in General Linguistics, sebagai ilmu yang mengkaji
tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Secara implisit, dalam
definisi itu adalah prinsip, bahwa semiotika menyandarkan dirinya pada aturan
main (rule) atau kode sosial yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda
dapat dipahami maknanya secara kolektif.
Penggunaan metode semiotik sebagai pendekatan
pembacaan dalam penelitian karya sastra (drama) didasarkan pada pengertian
tentang tanda, cara kerjanya, dan penggunaanya. Pendekatan Semiotik Riffaterre
merupakan salah satu metode analisis karya sastra yang memfokuskan kajian pada
usaha mencari atau menerangkan makna dibalik tanda, simbol atau icon yang
terdapat dalam sebuah karya sastra khususnya puisi. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses
membaca karya sastra secara semiotik riffaterre, yaitu pembacaan secara
heuristik dan pembacaan secara hermeneutik atau retroaktif. Pembacaan heuristik
ini adalah pembacaan menurut sistem bahasa. Pembacaan ini berdasar pada
konvensi bahasa atau tata bahasa normatif, morfologi semantik, dan sintaksis.
Pembacaan dengan cara heuristik ini,menghasilkan arti secara keseluruhan sesuai
dengan tata bahasa normatif .
Pada pembacaan heuristik dicoba untuk
memusatkan arti yang beraneka ragam dalam satu makna tunggal. Akan tetapi, menurut
Riffaterre pencapaian makna tunggal yang memusat, belum mencukupi untuk
memahami makna karya sastra yang sesungguhnya. Di sisi lain dapat pula di
temukan masalah berupa distorsi melalui penyimpangan Tata Bahasa atau Lexikon
yang oleh Riffaterre disebut ungramatikalitas. Maka analisis dilanjutkan pada
tahap kedua yaitu, melalui pembacaan hermeneutik, yang merupakan pembacaan berdasarkan konvensi sastra atas
struktur teks.
Selanjutnya, pembacaan hermeneutik ini
secara khusus didasarkan pada dua hipogram,yaitu hipogram potesial yang
terkandung dalam bahasa sehari-hari seperti preposisi dan sistem deskriptif dan
hipogram aktual yang berupa teks-teks yang telah ada sebelumnya. Hipogram dapat
berupa kata, frase, kutipan, ataupun ungkapan klise yang mereferensi pada pada
kata atau frase yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, terjadi pula pencarian
matriks dari teks yang diteliti. Dalam pemahaman makna karya
sastra,pembaca harus memahami bahwa teks bermula dari adanya matriks.
Matriks adalah kata kunci atau inti sari
dari serangakaian teks. Selanjutnya, Riffaterre menyatakan bahwa matriks bersifat
hipotesis yang berupa aktualisasi gramatikal dan leksikal suatu struktur.
Matriks tidak muncul dalam suatu kata dalam teks, tetapi diaktualisasikan dalam
model. Sedangkan model adalah pengembangan teks dengan pemaparan. Model dan
matriks didukung dengan adanya varian.
BAB III
METODOLOGI
Analisis terhadap karya fiksi yang dibahas
di dalam makalah ini, menggunakan pendekatan Semiotik Riffatere sebagai alat
kajinya. Semiotik didefinisikan oleh Ferdinand de Saussure di dalam Course in
General Linguistics, sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian
dari kehidupan sosial.
Berdasarkan teori tanda yang dikemukakan Riffatere,
maka dapat disimpulkan bahwa ilmu semiotika merupakan salah satu metode
analisis karya sastra yang memfokuskan kajian pada usaha mencari atau
menerangkan makna dibalik tanda, simbol atau icon yang terdapat dalam sebuah
karya sastra khususnya puisi. Namun, dalam kesempatan ini pendekatan tersebut
digunakan sebagai “pisau” yang membelah sebuah naskah drama. Pemaknaan terhadap
tanda akan memperoleh makna yang optimal apabila mendapatkan apresiasi dari
pembaca. Hal tersebut menunjukkan bahwa antara pembaca dan teks terjadi
dialektika dalam pemaknaan karya sastra.
Sebagaimana telah disinggung pada halaman
sebelumnya, dalam analisis drama ini yang dijadikan objek analisis adalah drama
Sepasang Mata Indah karya
Kirdjomuljo. Adapun
teknik pengumpulan data yang digunakan guna menunjang penelitian ini adalah
metode bedah pustaka. Segala bentuk informasi yang mendukung untuk dijadikan referensi
penganalisisan, berasal dari pemanfaatan berbagai literatur kepustakaan atau
buku-buku seputar sastra.
BAB III
PEMBAHASAN
MASALAH
A. Pembacaan
Heuristik
Tahap pertama dari analisis drama secara
semiotik Riffaterre adalah pembacaan secara heuristik atau pembacaan
berdasarkan konvensi bahasa, menurut sistem tata bahasa yang normatif. Pada
tahap ini sebuah nuansa makna dari drama akan diketemukan, meskipun dengan
kemungkinan-kemungkinan arti yang berbeda. Berikut ini adalah ringkasan drama “Sepasang Mata Indah” karya Kirdjomuljo.
Seorang pemuda yang jujur dan pemalu tengah
asyik belajar di kamarnya. Tiba-tiba ia menjadi begitu terkejut ketika seorang
gadis masuk ke dalam kamarnya seraya menutup pintu. Si gadis meminta
pertolongan dari pemuda. Menurut pengakuan si gadis, ia tengah dikejar untuk
dibunuh oleh ayahnya sendiri. Si gadis menolak di jodohkan oleh sang ayah.
Mendengar cerita si gadis, pemuda lugu itu jadi ketakutan setengah mati.
Apalagi mengingat aturan keras di kampungnya yang melarang keras seorang pemuda
membawa gadis ke kamar. Si pemuda menerawang membayangkan kejadian minggu yang
lalu ketika dua orang pemuda yang lain
di keroyok oleh warga karena di dapati membawa gadis ke kamarnya. Si pemuda
berusaha jujur menjelaskan segala bentuk ketakutannya pada si gadis, tapi si
gadis tidak mau tahu. Si gadis juga sangat takut atas kejaran ayahnya.
Si pemuda diam-diam menyiapkan jurus untuk
menghadapi ayah gadis, karena ternyata ayah si gadis adalah seorang adu jago.
Terdengar ketukan pintu. Si pemuda bersiap-siap dengan jurusnya. Ternyata yang
datang adalah tiga orang pengamen. Si gadis merasa sangat terhibur, lain halnya
dengan pemuda yang justru makin bertambah kekhawatirannya. Mereka kembali
terlibat percakapan sepeninggal para pengamen. Terdengar suara menggelegar dari
luar, ayah gadis datang. Ia menggedor meminta dibukakan pintu. Si pemuda
membuka pintu dengan siaga sambil tetap memasang kuda-kuda. Ayah gadis
membentak-bentak hingga akhirnya ia bertanyajawab dengan si pemuda, sekedar
menguji si pemuda. Si pemuda akhirnya mengakui bahwa ia mencintai si gadis.
Ayah gadis kemudian melemparkan bungkusan mirip kelewang pada pemuda. Ternyata
isinya adalah sebuah payung. Ayah gadis merestui pemuda untuk menikahi anaknya.
Fokus dalam telaah ini adalah budaya kejujuran
yang membawa hikmah. Sebuah realita yang kurang lebih tampak dari karakteristik
tokoh pemuda dalam drama ini. Si pemuda berusaha jujur pada gadis perihal
ketakutan juga kepatuhannya pada aturan kampung. Sebagaimana tergambar dalam
ringkasan, si pemuda menjelaskan bahwa di kampung tersebut memiliki aturan yang
keras mengenai hubungn antara lelaki dan perempuan. Kejujuran si pemuda
tersebut kurang lebih tersirat dalam dialog berikut.
07. Pemuda : Aduuuuuh! Nona
tidak tahu, aturan kampung di sini sangat keras. Kalau ada pemuda yang berani
membawa seorang gadis ke kamarnya, pasti celaka. Pemuda di sini galak-galak.
08. Gadis : Tetapi saudara
kan tidak
membawa saya kemari.
09. Pemuda : Tetapi kan nona ada di kamar
saya, berbahaya nona. Maka bukalah pintu itu dan harap nona bersedia pergi dari
sini. Tapi bukan maksud mengusir.
Dari dialog di atas dapat kita ambil sebuah pengertian bahwa si pemuda
memiliki karakter yang baik. Ia adalah seorang
yang paham sekaligus mengamalkan aturan kampung tempat tinggalnya. Si pemuda
berusaha meyakinkan gadis mengenai aturan yang ada. Meski si gadis bersikeras,
tapi si pemuda berusaha jujur akan semua resiko berbahaya yang mungkin terjadi jika ia ketahuan
melanggar aturan kampung pada si gadis. Sebenarnya si pemuda juga tidak ada
niat untuk mengusir si gadis. Kejujuran dari pemuda tersebut juga memancing
kejujuran si gadis bahwa ayahnya adalah seorang jagal kerbau dan suka
berkelahi. Pernyataan gadis tersebut membuat si pemuda sedikit gentar. Mau tak
mau si pemuda juga harus bersiap-siap menghadapi ayah si gadis. Kemudian dalam
dialog ketika akhirnya ayah si gadis datang.
88. Ayah :
Haaaa! Nah aku makin tahu sekarang. Hai, kau anak muda! Jawab pertanyaanku. Kau
senang pada anak gadisku yang ramping ini? Ayooo, jawab cepat! Haaaa!
89. Pemuda :
I…i…iya….. Pak! Demi apa saj saya cinta padanya, Pak!
90. Ayah :
Heeemmm, bagus. berani sekali kau ya? ….
Dialog tersebut
lagi-lagi menyiratkan sikap jujur yang dimiliki oleh si pemuda. Sebuah
keberanian untuk menyatakan bahwa pemuda memiliki rasa cinta pada si gadis.
Kejujuran demi kejujuran inilah yang kenudian membawa hikmah bagi diri si
pemuda. Dari penggambaran inilah penikmat drama ini dapat mengambil pelajaran
tentang arti sebuah kejujuran. Hikmah yang diterima oleh si pemuda antara lain
yaitu, ia dapat menemukan jodoh dan mendapat restu dari si ayah karena si
pemuda menunjukkan tabiat sebagai orang yang jujur.
B. Pembacaan
Hermeneutik
Pembacaan heuristik sudah dilakukan dan
menghasil arti secara keseluruhan. Untuk memperoleh makna sastra (signiwnce), drama
harus dibaca ulang (retroaktif) dengan memberikan tafsiran (hermeneutik). Pada
pembacaan hermeneutik, pembaca menyimak teks, mengingat kembali apa yang sudah
dibaca, kemudian memodifikasi pemahamannya berdasarkan hasil pembacaan yang
telah dilakukan. Pembacaan
hermeneutik drama “Sepasang Mata Indah” karya Kirdjomuljo menghasilkan pokok-pokok pikiran yang ada dalam dalam
tersebut dan juga penafsiran terhadapnya. Untuk menafsirkan tanda lebih jauh, pada
pembacaan hermeneutik pengkajian dapat dilakukan dengan hipogram potensial dan
hipogram aktual.
a. Hipogram Potensial
Pada pembacaan hermeneutik, hipogram potensial sangat terkait dengan sistem
pembacaan keseluruhan teks untuk memahami bagian-bagiannya dan membaca bagian-bagian itu untuk memahami proyeksi
dari keseluruhan teks drama “Sepasang Mata Indah” karya Kirdjomuljo.
b. Model dan Matriks
Matriks dalam drama “Sepasang Mata Indah” karya Kirdjomuljo adalah kejujuran
yang membawa hikmah. Sebagaimana yang di alami oleh tokoh pemuda yang
senantiasa jujur akan apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan. Di sinilah
kemudian terbaca bahwa tokoh pemuda adalah seseorang yang berbudaya memiliki
pemikiran yang baik dan dapat dijadikan contoh
di kehidupan nyata. Pada drama “Sepasang
Mata Indah” karya Kirdjomuljo ini,terdapat satu kalimat yang secara langsung
dan monumental memberikan sebuah kekuatan dramatik yang sangat menonjol sebagai
sebuah model yang sekali lagi merupakan aktulalisasi sikap jujur si pemuda..
Yaitu pada dialog berikut.
89. Pemuda :
I…i…iya….. Pak! Demi apa saja saya cinta padanya, Pak!
Dialog dalam drama
tersebut diucapkan oleh tokoh pemuda di tengah ketakutannya pada sosok ayah
gadis yang notabenenya seorang tukang jagal dan adu jago. Bahkan di saat ketakutan
pun si pemuda tetap mempertahankan arti sebuah kejujuran. Dialog
tersebut begitu mewakili berbagai penjabaran-penjabaran mengenai
kejujuran tokoh pemuda pada dialog-dialog sebelumnya. Adapun kejujuran tersebut
akhirnya membawa hikmah. Ditandai dengan persetujuan si ayah agar si pemuda
menikahi anak gadisnya.
c. Hipogram Aktual
Salah satu bentuk hipogaram yaitu ruang kosong yang tidak ada secara
tekstual tetap menentukan terbentuknya tanda dalam drama ini adalah hipogram
aktual yang berupa teks-teks yang telah ada sebelumnya. Dari hasil identifikasi
dialog-dialog yang berkaitan dengan sikap jujur si pemuda. Ditemukan matriks
”pentingnya kejujuran” sebagai pusat imajiner teks keseluruhan yang sifat
hipogramatiknya, terkait dengan beberapa teks atau dialog aktual sebelumnya.
Matriks ”pentingnya kejujuran” disini adalah suatu rekonstruksi sikap baik
yang dimiliki oleh si pemuda. Sikap yang mengantarkannya pada sebuah hikmah
yang baik. Pada pemaknaan tingkat kedua ini , pembaca menyimak teks, mengingat
kembali apa yang sudah dibaca, kemudian memodifikasi pemahamannya berdasarkan
hasil pembacaan yang telah dilakukan. Adapun hasil dari pemaknaan tingkat kedua
ini kurang lebih dapat di ambil pemahaman bahwa drama Sepasang Mata Indah ini
ingin menampilkan refleksi dari realita sosial dengan caranya sendiri, utamanya
yang berkaitan dengan nilai-nilai kejujuran yang belakangan semakin sulit kita
temui dimasyarakat kita.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
penjabaran hasil analisis yang terangkum dalam pembahasan. Dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
Fokus dalam telaah ini adalah budaya
kejujuran yang membawa hikmah. Sebuah realita yang kurang lebih tampak dari
karakteristik tokoh pemuda dalam drama ini. Kejujuran demi kejujuran dari si pemuda kemudian
membawa hikmah bagi diri si pemuda. Dari penggambaran inilah penikmat drama ini
dapat mengambil pelajaran tentang arti sebuah kejujuran. Hikmah yang diterima
oleh si pemuda antara lain yaitu, ia dapat menemukan jodoh dan mendapat restu
dari si ayah karena si pemuda menunjukkan tabiat sebagai orang yang jujur.
. Adapun hasil dari pemaknaan tingkat kedua ini kurang lebih dapat di ambil
pemahaman bahwa drama Sepasang Mata Indah
ini ingin menampilkan refleksi dari
realita sosial dengan caranya sendiri, utamanya yang berkaitan dengan
nilai-nilai kejujuran yang belakangan semakin sulit kita temui dimasyarakat
kita.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Ahid. 2009. Kontra
Propaganda dalam Drama Propaganda Sejumlah Telaah. Kendari : FKIP Unhalu
Kirdjomuljo. 2006. Sepasang Mata
Indah. Yogyakarta : Gama Media
Pradopo, Rahmat Joko,dkk. 2001. Metodologi
Penelitian Sastra. Yogyakarta : Hanindita.
Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta
: Gramedia Pustaka Utama.
Wahid, Sugira. 2004. Kapita
Selekta Ilmu Sastra. Makassar :
Jurusan PBSID, Universitas Negeri Makassar.
Wiyatmi,
2006. Pengantar Kajian Sastra. Jakarta: Pustaka