laeda

Jumat, 01 Juni 2012

Ringkasan

Antroposentrisme

Antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yangmemandang manusia sebagai pusat dari system alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistemdandalam kenijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya.
1.    Argument antroposentrisme
Pada umumunya agama Kristen dan filsafat barat, dan seluruh tradisi liberal, termasuk ilmu pengetahuan modern, dianggap sebagai akar dari etika antroposentrisme. Selain etologi kristenyang bersumber terutama pada kisah penciptaan duniasebagaimana dimuat dalamKitab Kejadian, pemikir-pemikir besar mulai dari Aristoteles, Thomas Aquinas, Rene Descartes dan Immanuel Kant mempunyai pengaruh sabgat besar dalam memebentuk cara pandang yang antroposentris ini. Kisah penciptaan dalam teologi Kristen dan juga pemikiran besar dari filsuf-filsufbesar ini sangat mempengaruhi cara pandang dan dalam kaitan dengan itu perilaku-manusia modern terhadap lingkungan.
Sekedar untuk melihat kemballi akar historis dari cara pandang yang antroposentris ini, ada baiknya kita sororti secara singkat pemikiran dasar dari teori Kristen dan filsuf-filsuf ini. Pertama, dalam kitab kejdian, pasal 1 :26-28, dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia secitra dengan Allah pada hari keenam sebagai pucak dari seluruh karya ciptaan-Nya. Kedua, argument antroposentrismeyang lain kita temukan pada tradisi Aristotelian sebagaimana dikembangkan oleh Thomas Aquinas dengan focus utama pada rantai kehidupan(the great chain of being). Ketiga manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainkarena manusia adalah satu-satunya makhluk bebas dan rasional sebagaimana diciptakan oleh Thomas Aquinas, Rene Descartes dan Immanuel Kant. 
Jadi, pendekatan antroposentrisme itu sendiri tidak salah, karena dengan menempatakan manusia pada posisi lebih terhormat ia dituntut untuk mempunyai tanggung jawab khusus terhadap seluruh isi alam semesta ini. Itu berarti, yang salah adalah penerapan antroposentrisme secara keliru dengan hanya melihat superirotas posisi manusia seakan dengan itu ia boleh berkuasa menggunakan alam semesta dan segala isinya secarasewenang-wenang. Sementara itu, dilupakan bahwa posisi yang lebih tinggi justru pada dirinya mengandungtanggung jawab untuk melindungi dan menjaga semua yang lebih rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar