Antroposentrisme
Antroposentrisme adalah teori etika
lingkungan yangmemandang manusia sebagai pusat dari system alam semesta.
Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan
ekosistemdandalam kenijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Nilai tertinggi adalah manusia dan
kepentingannya.
1.
Argument
antroposentrisme
Pada umumunya agama Kristen dan filsafat barat, dan seluruh
tradisi liberal, termasuk ilmu pengetahuan modern, dianggap sebagai akar dari
etika antroposentrisme. Selain etologi kristenyang bersumber terutama pada
kisah penciptaan duniasebagaimana dimuat dalamKitab Kejadian, pemikir-pemikir
besar mulai dari Aristoteles, Thomas Aquinas, Rene Descartes dan Immanuel Kant
mempunyai pengaruh sabgat besar dalam memebentuk cara pandang yang
antroposentris ini. Kisah penciptaan dalam teologi Kristen dan juga pemikiran
besar dari filsuf-filsufbesar ini sangat mempengaruhi cara pandang dan dalam
kaitan dengan itu perilaku-manusia modern terhadap lingkungan.
Sekedar untuk melihat kemballi akar historis dari cara
pandang yang antroposentris ini, ada baiknya kita sororti secara singkat
pemikiran dasar dari teori Kristen dan filsuf-filsuf ini. Pertama, dalam kitab
kejdian, pasal 1 :26-28, dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia secitra
dengan Allah pada hari keenam sebagai pucak dari seluruh karya ciptaan-Nya.
Kedua, argument antroposentrismeyang lain kita temukan pada tradisi
Aristotelian sebagaimana dikembangkan oleh Thomas Aquinas dengan focus utama
pada rantai kehidupan(the great chain of being). Ketiga manusia lebih tinggi
dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainkarena manusia adalah
satu-satunya makhluk bebas dan rasional sebagaimana diciptakan oleh Thomas
Aquinas, Rene Descartes dan Immanuel Kant.
Jadi, pendekatan antroposentrisme itu sendiri tidak salah,
karena dengan menempatakan manusia pada posisi lebih terhormat ia dituntut
untuk mempunyai tanggung jawab khusus terhadap seluruh isi alam semesta ini.
Itu berarti, yang salah adalah penerapan antroposentrisme secara keliru dengan
hanya melihat superirotas posisi manusia seakan dengan itu ia boleh berkuasa
menggunakan alam semesta dan segala isinya secarasewenang-wenang. Sementara
itu, dilupakan bahwa posisi yang lebih tinggi justru pada dirinya
mengandungtanggung jawab untuk melindungi dan menjaga semua yang lebih rendah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar