Tugas
BAHASA
INDONESIA
Oleh:
SALIUDIN
E1D1 09 037
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010
Berdasarkan beberapa pendapat di
atas , maka dapat disimpulkan bahwa
untuk menyajikan pikiran oleh atau gagasan secara oral merupakan persyaratan
yang harus dipenuhi oleh calon pembicara oleh sebab itu, seorang pembicara
harus berusaha meyakinkan pendengar untuk menerima pemikiran, ide, atau pesan yang disampaikan secara baik, santun
dan efektif.
2.1.4 Efekifitas Berbicara
Efektifitas
berbicara akan tercapai apabila memenuhi
sedikitnya lima komponen berikut.
1) adanya
kesamaan kepentingan antara pembicara dengan penyimak
2) adanya
sikap saling mendukung dari kedua belah pihak
3) adanya
sikap postitif, artinya pikiran atau ide yang diutarakan dapat diterima sebagai
sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi keduanya
4)
adanya sikap keterbukaan yang ditampilkan
oleh kedua belah pihak
5) adanya usaha dari masing-masing pihak untuk
menempatkan diri sebaik- baiknya pada mitra bicaranya.
Lain halnya Maidar G. Arsjad
(1991:17-22) menuliskan 1) ketepatan ucapan, 2) penempatan tekanan, nada, sendi,
dan durasi yang sesuai, 3) pilihan kata (diksi), dan 4) ketetapan sasaran pembicaraan merupakan
faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, Sedangkan 1) sikap wajar, tenang, dan tidak kaku, 2)
pandangan harus diarahkan ke lawan bicara, 3) kesediaan menghargai pendapat
orang lain, 4) gerak-gerik dan mimik yang tetap, 5) kenyaringan suara, 6)
kelancaran, 7) relavansi atau penalaran, dan 8) penguasaan topik merupakan
faktor nonkebebasan sebagai penunjang keefektifan berbicara.
2.1.5 Pembelajaran Berbicara di Kelas V SD
1.
Pemilihan materi pelajaran
Pemilihan materi pembelajaran
berbicara sesuai dengan butir-butir materi yang digariskan dalam kurikulum
Sekolah Dasar, khususnya materi yang berhubungan dengan penceritaan (cerita).
2.Teknik
dan media pembelajaran
Teknik pembelajaran adalah cara
penyampaian materi pembelajaran kepada murid. Apabila dikaitkan dengan
pengalaman belajar, teknik berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman
belajar yang telah dirancang (Tarigan, 1980:260,sebagaimana tertulis dalam
Kisyani-Laksono, 2001: 56).
Teknik pengajaran berbicara yang baik selalu
memenuhi berbagai kriteria. Kriteria itu
berkaitan dengan tujuan, bahan,pembinaan keterampilan proses dan pengalaman
belajar. Kriteria yang harus dipenuhi oleh teknik pengajaran berbicara, antara
lain adalah sebagai berikut.
1. Relevan
dengan tujuan pengajaran
2. Memudahakn
murid memahami materi pengajaran
3. Mengembangkan
butir-butir keterampilan proses
4. Dapat
mewujudkan pengalaman belajar yang telah
di rancang
5. Merangsang
murid untuk belajar
6. Mengembaangkan
penamilan murid
7. Tidak
menutut peralatan yang rumit
8. Mudah
dilaksanakan
9. Menciptakan
suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
2.2 Standar
Isi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
kelas V
Kurikulum
tingkat satuan pendidikan(KTSP) mata pelajaran
bahasa Indonesia di sekolah dasar
yang diatur dalam permediknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi mata
pelajaran Bahasa Indonesia, tertulis bahwa pada hakikatnya belajar bahasa
adalah komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa
dan sastra Indonesia
di arahakan untuk meningkatkan kemampuan
murid nerkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secar lisan maupun tertulis.
Widya, dkk. (2006:V) menggmbarkan
salah satu aspek standar isi pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar kelas V
sebagaimana tertulis dalam table:
|
standar
kompotensi
|
kompotensi
dasar
|
|
keterampilan
berbicara
Mengungkapkan pikiran,
pendapat, perasaan, fakta secara lisan
dengan menanggapi suatu persoalan menceritakan hasil pengamatan atau berbicara.
|
1. Menceritakan
hasil pengamatan dengan bahasa yang runtut ,baik dan benar.
2. Berbicara
secara sederhana dengan nara sumber (tempat bertanya)
3. Menanggapi
suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan pemecahanya.
|
2.3 Teknik
Story Telling
Salah
satu teknik pengembangan bahsa di sekolah
dasar untuk mengahasilkan kemampauan berbahasa anak adalah dengan menggunakan teknik story telling. Penggunaan teknik ini di butuhkan
untuk melatih dan membentuk keterampilan
berbicara, daya nalar, dan pengembangan
teknik awal. Sejalan dengan hal ini (Logan, dkk., 1972:116) sebagaimana
yang tertulis dalam Djago Tariagan, 1997:48) mengatakan bahwa salah satu jenis
kegiatan berbicara adalah bercerita.
2.3.1 Pengertian Story Telling
Story telling
terdiri atas dua kata yaitu story
yang berarti cerita dan telling
berarti penceritaan. (Echols.1975, sebagaimana yang tertulis dalam Nur
Mustakim, 2005:174). Gabungan kedua kata
story telling berarti penceritaan cerita atau perihal menceritakan cerita.
Loban (dalam Nur Mustakim,
2005:174) menyatakan bahwa story telling bisa
menjadi sebuah motivasi untuk mengmbangkan daya kesadaran, mempeluas daya
imajinasi anak atau menggiatkan kegiatan story
telling pada berbagai kesempatan.
2.3.2
Kegiatan
Pembelajaran Teknik Story Telling
Kegiatan pembelajaran story telling mereferensikan beberapa
langkah persiapan sebagai berikut.
1.
Persiapan perencanaan pembelajaran
dengan teknik story telling
adalah
a)
menelaah garis-garis besar program kegiatan
belajar mengajar (GBPKB),
b)
menetapkan tujuan pembelajaran,
c)
menyusun persiapan mengajar.
2.
menyusun persiapn meaan pembelajaran
dengan teknik story telling.
a)
Persiapan story telling.
Untuk pelaksanaan story telling diperlukan langkah
persiapan secara mantap. Kingore (dalam Nur Mustakim, 2005:181) memberikan lima
langkah persiapan story telling adalah
sebagai berikut: (1) pililah cerita yang
disukai, (2) bacalah cerita beberapa kali agar dapat menghayati dan memahami
alur dan perhatian atau frase yang diulang-ulang untuk menghidupkan cerita, (3) buatlah rancangan pendukung atau gerakan/
isyarat untuk menarik pendengar atau anak,
(4) persiapkan sebuah pengantar singkat yang menghubungkan cerita dan
pengalaman pendengar/ anak, (5) berlatih
menyampaikan di depan cermin.
Dalam
peeria pemilihan cerita hendaknya guru memperhatikan petunjuk bagaimana memilih
cerita seperti yang dikemukakan oleh
Morrow (dalam Tompkins 1991:152,sebagaimana yang tertulis Nur Mustakim,
2005:181) mengemukakan kriteria pemilihan cerita yang akan diceritakan sebagai
berikut; (1) mempunyai plot yang
sederhana dan tersusun dengan baik (2) mempunyai
permulaan, pertengahan, dan akhir cerita yang jelas (3) memiliki tema yang dasar (4) mempunyai karakter yang cukup jelas (5) berisi dialog (6) menggunakan repitisi atau pengulangan (7) menggunakan yang hidup atau frase-frase
yang biasa.
Setelah cerita dipilih, maka
bacalah cerita itu dengan teliti dengan seksama. Tentukan garis-garis besar isi
cerita kemudian dipahami bentuk bagaimana unsur cerita dan tema cerita.
Cerita yang telah dibaca tadi
dibuatkan pokok-pokoknya, kemudian tentukan penggalan cerita itu untuk diingat
dan diulang-ulang supaya dalam penyajian lancar dan hidup suasananya.
Pada saat anak menyampaikan cerita
perhatian guru tertuju kepadanya. Motivasilah anak bimbinglah mereka pada mulai
bercerita, sedang bercerita, dan waktu mengakhiri cerita.
Upaya guru menyajikan pembelajaran
pada tahap membuka adalah menanyakan pengetahuan dan pengalaman anak tentang
cerita dan cara menyusun cerita. Pada tahap ini guru menghubungkan pengalaman
dan pengetahuan anak untuk memudahkan pemahaman anak.
b)
Menyampaikan teknik story telling.
Setelah menyusun Satuan Kegiatan
Harian (SKH), maka guru melaksanakan kegiatan story telling. SKH sebagai pedoman pelaksanaan bercerita, hendaknya
diperhatikan langkah-langkah kegiatan mengajar. Dalam pelaksanaankegiatan story telling di SD hendaknya
diperhatiakn asas belajar sambil bermain, prinsip berpusat pada perkembangan
anak.
c)
Teknik penceritaan kembali
Penceritaan kembali cerita adalah
kegiatan anak setelah anak memahami cerita dan menceritakan kembali isi cerita.
Manfaat dari kegiatan reproduksi
cerita dapat memberikan berbagai kebutuhan berbagai kebutuhan dalam
perkembangan emosional anak, imajinasi dan perkembangan wawasan anak.
Litlewood (dalam Teori
Pembelajaran Bahasa, 1998) mengemukakan bahwa aktifitas belajar murid dalam
rangka mengusai kompetinsi komunikatif bahasa salah satunya adalah bercerita.
Murid dengan teori di atas, teknik story
telling yang dilaksanakna di kelas, melibatkan semua murid sehingga tidak
ada murid yang berperilaku menyimak saja. Semua murid mendapat giliran
berbicara karena digunakan system kelompok. Kelompok tersebut terdiri atas tiga
murid; satu sebagai pencerita, satu sebagai penanya, dan satu lagi sebagai
pencacat pertanyaan. Berikutnya giliran murid penanya menjadi pencerita, murid
pencacat sebagai penanya, sedangkan murid pencerita sebagai pencacat. Begitu
seterusnya digilirkan sehingga ketiga murid yang dikelompokan tersebut mendapat
giliran baik sebagai pencerita, penanya, sebagai pencatat. Selanjutnya mereka
bertiga membuat rangkuman cerita-cerita yang disimaknya.
Pada sisi lain, kegiatan ini tidak
membosankan murid karena di dalam kelompak tersebut dibagikan tiga materi
cerita yang berbeda. Melalui cerita ini, intensitas latihan lebih diutamakan
dan murid tetap menyimak karena cerita yang berbeda. Melalui cara ini,
intensitas latihan lebih diutamakan dan murid tetap menyimak karena cerita yang
disampaikan berbeda. Tentu saja cerita yang dipilih adalah cerita yang tidak
panjang dan mudah dipahami murid. Yang dipentingkan dalam teknik story
telling di dalam penelitian ini adalah latihan yang intensif. Dengan
demikian, diharapkan semua murid dapat berbicara (bercerita) di hadapan
pendengar dengan penuh percaya diri berkat latihan yang kontinyu.
2.4
Hipotesis
Tindakan
Bedasarkan kajian pustaka yang
diajukan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut “Dengan menggunakan teknik story telling kemampuan berbicara murid
kelas V SD Negeri Ambololi dapat
ditingkatkan.
BAB
III
METODE
DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Rencana Penelitian
3.1.1
Setting Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di kelas V SD Negeri Ambololi Kecamatan Konda Kabupaten Konawe
Selatan. Jumlah murid kelas tersebut sebanyak 22 orang, yang terdiri atas 13
perempuan dan 9 laki-laki.
3.1.2 Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan di
atas, ada beberapa faktor yang diselidiki.
Factor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Faktor
murid yaitu, dengan dengan melihat keantusiasan murid terhadap pembelajaran
berbicara dengan menggunakan tekni story
telling. Apakah termasuk kategori rendah, sedang atau tinggi. Di samping
itu, implementasi tindakan, observasi interpertasi proses dan hasil
implementasi tindakan tersebut terjadi keduanya karena keduanya merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dalam tindakan pembelajaran yang dipelajari
sebelumnya.
2. Faktor
guru, yaitu dengan melihat bagaimana materi pelajaran bebicara yang disiapkan
serta teknik pembelajaran berbicara yang digunakan dalam interaksi belajar
mengajar di kelas dalam pembelajaran pada umumnya.
3.2 Rencana Tindakan
Pelaksanaan
PTK bisa dilakukan oleh seorang guru
atas prakarsanya sendiri atau kolaborasi. Observasi yang dilakukan oleh guru
sebagai aktor PTK tidak boleh digantikan oleh pengamat luar atau sarana perekam
betapapun canggihnya. Dengan kata lain, implementasi tindakan tersebut terjadi
karena keduanya merupakan bagian yang terpisahkan dalam tindakan pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan
sehingga menggunakan rancangan penelitan tindakan. Pada kegiatan ini, peneliti
bertindak sebagai mitra agar dapat
melihat dan mengidentifikasi kemampuan
meningkatkan pembelajaran berbicara
melalui teknik story telling.
Kemudian obsevasi awal dilakukan dengan maksud untuk mengetahui atau memperoleh
kondisi awal model pembelajaran keterampilan berbicara yang dilakukan
sebelumnya, dan data yang diperoleh
melalui wawancara merupakan informasi penting dalam kegiatan observasi wawal
tersebut. Berdasarkan evaluasi dan obsevasi awal, maka dalam refleksi ditetapakan
tindakan dan prosedur, perencanaan(planning),
pelaksanaan tindakan(action), observasi
dan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar