laeda

Jumat, 01 Juni 2012

Tugas Saliudin


Tugas                                            

BAHASA INDONESIA

 

Oleh:
SALIUDIN
E1D1 09 037


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010


              Berdasarkan beberapa pendapat di atas , maka dapat disimpulkan bahwa  untuk menyajikan pikiran oleh atau gagasan secara oral merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pembicara oleh sebab itu, seorang pembicara harus berusaha meyakinkan pendengar untuk menerima pemikiran, ide, atau  pesan yang disampaikan secara baik, santun dan efektif.

2.1.4      Efekifitas Berbicara
              Efektifitas  berbicara akan tercapai apabila memenuhi sedikitnya lima komponen berikut.
1)      adanya kesamaan kepentingan antara pembicara dengan penyimak
2)      adanya sikap saling mendukung dari kedua belah pihak
3)      adanya sikap postitif, artinya pikiran atau ide yang diutarakan dapat diterima sebagai sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi keduanya
      4)   adanya sikap keterbukaan yang ditampilkan oleh kedua belah pihak
      5)   adanya usaha dari masing-masing pihak untuk menempatkan diri sebaik-   baiknya pada   mitra bicaranya.
              Lain halnya Maidar G. Arsjad (1991:17-22) menuliskan 1) ketepatan ucapan, 2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, 3) pilihan kata (diksi), dan  4) ketetapan sasaran pembicaraan merupakan faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, Sedangkan  1) sikap wajar, tenang, dan tidak kaku, 2) pandangan harus diarahkan ke lawan bicara, 3) kesediaan menghargai pendapat orang lain, 4) gerak-gerik dan mimik yang tetap, 5) kenyaringan suara, 6) kelancaran, 7) relavansi atau penalaran, dan 8) penguasaan topik merupakan faktor nonkebebasan sebagai penunjang keefektifan berbicara.

2.1.5      Pembelajaran Berbicara di Kelas V SD
1. Pemilihan materi pelajaran
              Pemilihan materi pembelajaran berbicara sesuai dengan butir-butir materi yang digariskan dalam kurikulum Sekolah Dasar, khususnya materi yang berhubungan dengan penceritaan (cerita).
2.Teknik dan media pembelajaran
              Teknik pembelajaran adalah cara penyampaian materi pembelajaran kepada murid. Apabila dikaitkan dengan pengalaman belajar, teknik berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang (Tarigan, 1980:260,sebagaimana tertulis dalam Kisyani-Laksono, 2001: 56).
              Teknik  pengajaran berbicara yang baik selalu memenuhi  berbagai kriteria. Kriteria itu berkaitan dengan tujuan, bahan,pembinaan keterampilan proses dan pengalaman belajar. Kriteria yang harus dipenuhi oleh teknik pengajaran berbicara, antara lain adalah sebagai berikut.
1.      Relevan dengan tujuan pengajaran
2.      Memudahakn murid memahami materi pengajaran
3.      Mengembangkan butir-butir keterampilan  proses
4.      Dapat mewujudkan pengalaman belajar yang telah  di rancang
5.      Merangsang murid untuk belajar
6.      Mengembaangkan penamilan murid
7.      Tidak menutut peralatan yang rumit
8.      Mudah dilaksanakan
9.      Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.



2.2         Standar Isi Mata Pelajaran  Bahasa Indonesia kelas V
              Kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP) mata pelajaran  bahasa Indonesia  di sekolah dasar yang diatur dalam permediknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi mata pelajaran Bahasa Indonesia, tertulis bahwa pada hakikatnya belajar bahasa adalah komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran  bahasa  dan  sastra  Indonesia  di arahakan untuk meningkatkan kemampuan  murid nerkomunikasi dengan bahasa Indonesia  baik secar lisan maupun tertulis.
              Widya, dkk. (2006:V) menggmbarkan salah satu aspek standar isi pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar kelas V sebagaimana tertulis dalam table:
           
standar kompotensi
kompotensi dasar
keterampilan berbicara
Mengungkapkan pikiran, pendapat,  perasaan, fakta secara lisan dengan menanggapi suatu persoalan menceritakan  hasil pengamatan atau berbicara.
1.      Menceritakan hasil pengamatan dengan bahasa yang runtut ,baik dan benar.
2.      Berbicara secara sederhana dengan nara sumber (tempat bertanya)
3.      Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan pemecahanya.

2.3         Teknik Story Telling
              Salah satu teknik pengembangan bahsa di sekolah  dasar untuk mengahasilkan kemampauan berbahasa  anak adalah dengan menggunakan teknik story telling. Penggunaan teknik ini di butuhkan untuk melatih dan membentuk keterampilan  berbicara, daya nalar, dan pengembangan  teknik awal. Sejalan dengan hal ini (Logan, dkk., 1972:116) sebagaimana yang tertulis dalam Djago Tariagan, 1997:48) mengatakan bahwa salah satu jenis kegiatan berbicara adalah bercerita.
2.3.1      Pengertian Story Telling
              Story telling terdiri atas dua kata yaitu story yang berarti cerita dan telling berarti penceritaan. (Echols.1975, sebagaimana yang tertulis dalam Nur Mustakim, 2005:174). Gabungan kedua kata story telling berarti penceritaan cerita atau perihal menceritakan cerita.
              Loban (dalam Nur Mustakim, 2005:174) menyatakan bahwa story telling bisa menjadi sebuah motivasi untuk mengmbangkan daya kesadaran, mempeluas daya imajinasi anak atau menggiatkan kegiatan story telling pada berbagai kesempatan.
2.3.2        Kegiatan Pembelajaran Teknik Story Telling
              Kegiatan pembelajaran story telling mereferensikan beberapa langkah persiapan sebagai berikut.
1.      Persiapan perencanaan pembelajaran dengan teknik story telling adalah 
a)      menelaah garis-garis besar program kegiatan belajar mengajar (GBPKB),
b)        menetapkan tujuan pembelajaran,
c)         menyusun persiapan mengajar.
2.      menyusun persiapn meaan pembelajaran dengan teknik story telling.
a)         Persiapan story telling.
              Untuk pelaksanaan story telling diperlukan langkah persiapan secara mantap. Kingore (dalam Nur Mustakim, 2005:181) memberikan lima langkah persiapan story telling adalah sebagai berikut:  (1) pililah cerita yang disukai, (2) bacalah cerita beberapa kali agar dapat menghayati dan memahami alur dan perhatian atau frase yang diulang-ulang untuk menghidupkan cerita,  (3) buatlah rancangan pendukung atau gerakan/ isyarat untuk menarik pendengar atau anak,  (4) persiapkan sebuah pengantar singkat yang menghubungkan cerita dan pengalaman pendengar/ anak,  (5) berlatih menyampaikan di depan cermin.
              Dalam peeria pemilihan cerita hendaknya guru memperhatikan petunjuk bagaimana memilih cerita seperti  yang dikemukakan oleh Morrow (dalam Tompkins 1991:152,sebagaimana yang tertulis Nur Mustakim, 2005:181) mengemukakan kriteria pemilihan cerita yang akan diceritakan sebagai berikut;  (1) mempunyai plot yang sederhana dan tersusun dengan baik  (2) mempunyai permulaan, pertengahan, dan akhir cerita yang jelas  (3) memiliki tema yang dasar  (4) mempunyai karakter yang cukup jelas  (5) berisi dialog (6)  menggunakan repitisi atau pengulangan  (7) menggunakan yang hidup atau frase-frase yang biasa.
              Setelah cerita dipilih, maka bacalah cerita itu dengan teliti dengan seksama. Tentukan garis-garis besar isi cerita kemudian dipahami bentuk bagaimana unsur cerita dan tema cerita.
              Cerita yang telah dibaca tadi dibuatkan pokok-pokoknya, kemudian tentukan penggalan cerita itu untuk diingat dan diulang-ulang supaya dalam penyajian lancar dan hidup suasananya.
              Pada saat anak menyampaikan cerita perhatian guru tertuju kepadanya. Motivasilah anak bimbinglah mereka pada mulai bercerita, sedang bercerita, dan waktu mengakhiri cerita.
              Upaya guru menyajikan pembelajaran pada tahap membuka adalah menanyakan pengetahuan dan pengalaman anak tentang cerita dan cara menyusun cerita. Pada tahap ini guru menghubungkan pengalaman dan pengetahuan anak untuk memudahkan pemahaman anak.
b)        Menyampaikan teknik story telling.
              Setelah menyusun Satuan Kegiatan Harian (SKH), maka guru melaksanakan kegiatan story telling. SKH sebagai pedoman pelaksanaan bercerita, hendaknya diperhatikan langkah-langkah kegiatan mengajar. Dalam pelaksanaankegiatan story telling di SD hendaknya diperhatiakn asas belajar sambil bermain, prinsip berpusat pada perkembangan anak.
c)         Teknik penceritaan kembali
              Penceritaan kembali cerita adalah kegiatan anak setelah anak memahami cerita dan menceritakan kembali isi cerita.

              Manfaat dari kegiatan reproduksi cerita dapat memberikan berbagai kebutuhan berbagai kebutuhan dalam perkembangan emosional anak, imajinasi dan perkembangan wawasan anak.
              Litlewood (dalam Teori Pembelajaran Bahasa, 1998) mengemukakan bahwa aktifitas belajar murid dalam rangka mengusai kompetinsi komunikatif bahasa salah satunya adalah bercerita. Murid dengan teori di atas, teknik story telling yang dilaksanakna di kelas, melibatkan semua murid sehingga tidak ada murid yang berperilaku menyimak saja. Semua murid mendapat giliran berbicara karena digunakan system kelompok. Kelompok tersebut terdiri atas tiga murid; satu sebagai pencerita, satu sebagai penanya, dan satu lagi sebagai pencacat pertanyaan. Berikutnya giliran murid penanya menjadi pencerita, murid pencacat sebagai penanya, sedangkan murid pencerita sebagai pencacat. Begitu seterusnya digilirkan sehingga ketiga murid yang dikelompokan tersebut mendapat giliran baik sebagai pencerita, penanya, sebagai pencatat. Selanjutnya mereka bertiga membuat rangkuman cerita-cerita yang disimaknya.
              Pada sisi lain, kegiatan ini tidak membosankan murid karena di dalam kelompak tersebut dibagikan tiga materi cerita yang berbeda. Melalui cerita ini, intensitas latihan lebih diutamakan dan murid tetap menyimak karena cerita yang berbeda. Melalui cara ini, intensitas latihan lebih diutamakan dan murid tetap menyimak karena cerita yang disampaikan berbeda. Tentu saja cerita yang dipilih adalah cerita yang tidak panjang dan mudah dipahami murid. Yang dipentingkan dalam teknik  story telling di dalam penelitian ini adalah latihan yang intensif. Dengan demikian, diharapkan semua murid dapat berbicara (bercerita) di hadapan pendengar dengan penuh percaya diri berkat latihan yang kontinyu.
2.4                   Hipotesis Tindakan
Bedasarkan kajian pustaka yang diajukan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut  “Dengan menggunakan teknik story telling kemampuan berbicara murid kelas V SD Negeri  Ambololi dapat ditingkatkan.
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1  Rencana Penelitian

3.1.1    Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri Ambololi Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan. Jumlah murid kelas tersebut sebanyak 22 orang, yang terdiri atas 13 perempuan dan 9 laki-laki.

3.1.2   Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan di atas, ada beberapa faktor yang diselidiki.
Factor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Faktor murid yaitu, dengan dengan melihat keantusiasan murid terhadap pembelajaran berbicara dengan menggunakan tekni story telling. Apakah termasuk kategori rendah, sedang atau tinggi. Di samping itu, implementasi tindakan, observasi interpertasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi keduanya karena keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam tindakan pembelajaran yang dipelajari sebelumnya.
2.      Faktor guru, yaitu dengan melihat bagaimana materi pelajaran bebicara yang disiapkan serta teknik pembelajaran berbicara yang digunakan dalam interaksi belajar mengajar di kelas dalam pembelajaran pada umumnya.

3.2  Rencana Tindakan
                         Pelaksanaan  PTK bisa dilakukan oleh seorang guru atas prakarsanya sendiri atau kolaborasi. Observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak boleh digantikan oleh pengamat luar atau sarana perekam betapapun canggihnya. Dengan kata lain, implementasi tindakan tersebut terjadi karena keduanya merupakan bagian yang terpisahkan dalam tindakan pembelajaran.
                         Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sehingga menggunakan rancangan penelitan tindakan. Pada kegiatan ini, peneliti bertindak sebagai  mitra agar dapat melihat dan mengidentifikasi  kemampuan meningkatkan pembelajaran berbicara  melalui teknik story telling. Kemudian obsevasi awal dilakukan dengan maksud untuk mengetahui atau memperoleh kondisi awal model pembelajaran keterampilan berbicara yang dilakukan sebelumnya, dan data  yang diperoleh melalui wawancara merupakan informasi penting dalam kegiatan observasi wawal tersebut. Berdasarkan evaluasi dan obsevasi awal, maka dalam refleksi ditetapakan tindakan dan prosedur, perencanaan(planning), pelaksanaan tindakan(action), observasi dan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar