laeda

Jumat, 01 Juni 2012

Ringkasan Nano

1.    Etika Instrumentalistik
Kendati antroposentrisme dikritik,sebagai biang keladi dari krisis ekologi, sebagai sebuah teori etika, antroposentrisme mempunyai posisi moral tertentu yang posistif dalam rangka perlindungan lingkungan hidup. Di balik pandangan antroposentrisme itu, ada beberapa posisi dan argumen moral yang bisa dijadikan pegangan bagi perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan  hidup.
Pertama, apa yang disebut Richard Sylvan dan David Bennet sebagai prudential and instrumental arguments. Kedua, teologi Kristen yang terutama dipengaruhi oleh kisah penciptaan dunia dalam kitab Kejadian, memang sangat kuat antroposentrismenya. Ketiga sebagai aristokrat biologis, manusia mempunyai tanggung jawab dan kewajiban moral untuk melayani, menjaga dan melindungi semua makhluk yang berada di bawah kekuasaannya.
Dalam kaitan dengan etika lingkungan yang ditwarkannnya, ada beberapa kelemahan yang perlu disinggung di sisni. Pertama, model etika ini mengabaikan masalah-masalah lingkungan yang tidak langsung menyentuh kepentingan manusia. Kedua, kepentingan manusia selalu berubah-ubah dan berbeda pula kadarnya. Ketiga, yang menjadi perhatian antroposentrisme ini adalah urusan (kepentingan manusia) jangka pendek, khususnya kepentingan ekonomi. Akibatnya, lingkungan hidup selalu dikorbankan demi kepentingan jangka pendek tersebut.
2.    Dengan ini mau dikatakan bahwa etika antroposentrisme bisa mendorong manusia dan perushaan untuk peduli dengan lingkungan demi kepentingannya. Akan tetapi, sering kali argument etis seperti yang dilontarkan antroposentrisme tidak jalan karena persoalan tadi: kepentingan jangka peendek lebih penting, kepentingan sempit individu dan kelompok lebih diutamakan  daripada kepentingan manusia secara keseluruhan. Akibatnya, sikap dan perilaku “masa bodoh” (indifferent) terhadap lingkungan menjadi lebih menonjol daripada yang seharusnya menurut perhitungan dan tuntutan etika antroposentrisme.

Biosentrisme

Kalau antroposentrisme menggugah manusia untuk menyelamatkan lingkungan, itu didasarkan pada alas an bahwa lingkungan dan alam semesta dibutuhkan manusia demi memuaskan kepentingannya. Biosentrisme justru sebaliknya menolak argumen antroposentrisme ini.
Cirri utama etika ini adalah bicentrric, karena teori ini menganggap steiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri. Teori ini menganggap serius setiap kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta.
Kareena yang menjadi pusat perhatian dan dibela oleh teori ini adalah kehidupan, secara moral, berlaku prinsip bahwa setiap kehidupan di muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Konsekuensinya, alam semesta adalah sebuah komunitas moral, di mana setiap kehidupan dalam alam semesta ini, baik manusia maupun yang bukan manusia, sama-sama mempunyai nilai moral. Seluruh kehidupan di alam semesta sesungguhnya membentuk komunitas moral. Oleh karena itu, kehidupan makhluk apapun pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, bahkan lepas dari perhitungan untung-rugi bagi kepentingan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar