1.
Etika
Instrumentalistik
Kendati antroposentrisme dikritik,sebagai biang keladi dari
krisis ekologi, sebagai sebuah teori etika, antroposentrisme mempunyai posisi
moral tertentu yang posistif dalam rangka perlindungan lingkungan hidup. Di
balik pandangan antroposentrisme itu, ada beberapa posisi dan argumen moral
yang bisa dijadikan pegangan bagi perilaku manusia dalam hubungannya dengan
lingkungan hidup.
Pertama, apa yang disebut Richard Sylvan dan David Bennet
sebagai prudential and instrumental
arguments. Kedua, teologi Kristen yang terutama dipengaruhi oleh kisah
penciptaan dunia dalam kitab Kejadian, memang sangat kuat antroposentrismenya.
Ketiga sebagai aristokrat biologis, manusia mempunyai tanggung jawab dan
kewajiban moral untuk melayani, menjaga dan melindungi semua makhluk yang
berada di bawah kekuasaannya.
Dalam kaitan dengan etika lingkungan yang ditwarkannnya, ada
beberapa kelemahan yang perlu disinggung di sisni. Pertama, model etika ini mengabaikan masalah-masalah lingkungan
yang tidak langsung menyentuh kepentingan manusia. Kedua, kepentingan manusia selalu berubah-ubah dan berbeda pula
kadarnya. Ketiga, yang menjadi
perhatian antroposentrisme ini adalah urusan (kepentingan manusia) jangka
pendek, khususnya kepentingan ekonomi. Akibatnya, lingkungan hidup selalu
dikorbankan demi kepentingan jangka pendek tersebut.
2.
Dengan
ini mau dikatakan bahwa etika antroposentrisme bisa mendorong manusia dan
perushaan untuk peduli dengan lingkungan demi kepentingannya. Akan tetapi,
sering kali argument etis seperti yang dilontarkan antroposentrisme tidak jalan
karena persoalan tadi: kepentingan jangka peendek lebih penting, kepentingan
sempit individu dan kelompok lebih diutamakan
daripada kepentingan manusia secara keseluruhan. Akibatnya, sikap dan
perilaku “masa bodoh” (indifferent) terhadap
lingkungan menjadi lebih menonjol daripada yang seharusnya menurut perhitungan
dan tuntutan etika antroposentrisme.
Biosentrisme
Kalau antroposentrisme menggugah manusia untuk menyelamatkan
lingkungan, itu didasarkan pada alas an bahwa lingkungan dan alam semesta
dibutuhkan manusia demi memuaskan kepentingannya. Biosentrisme justru
sebaliknya menolak argumen antroposentrisme ini.
Cirri utama etika ini adalah bicentrric, karena teori ini menganggap steiap kehidupan dan
makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri. Teori ini
menganggap serius setiap kehidupan dan makhluk hidup di alam semesta.
Kareena yang menjadi pusat perhatian dan dibela oleh teori
ini adalah kehidupan, secara moral, berlaku prinsip bahwa setiap kehidupan di
muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama sehingga harus dilindungi dan
diselamatkan. Konsekuensinya, alam semesta adalah sebuah komunitas moral, di
mana setiap kehidupan dalam alam semesta ini, baik manusia maupun yang bukan
manusia, sama-sama mempunyai nilai moral. Seluruh kehidupan di alam semesta
sesungguhnya membentuk komunitas moral. Oleh karena itu, kehidupan makhluk apapun
pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral,
bahkan lepas dari perhitungan untung-rugi bagi kepentingan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar