laeda

Jumat, 01 Juni 2012

Eksposisi

Tugas menulis 1

TULISAN  PARAGRAF EKSPOSISI

L A  E D A
A2D1 09100

KARYA SASTRA ANGKATAN 1945

Karya  sastra angkatan  45 merupakan karya  yang dihasilkan  pada angakatan  45 dinamakan angkatan 45 karena  kelahiranya tidak dapat dilepaskan dari lingkungan pendudukan Jepang  dan masa revolusi Indonesia. Masa revolusi merupakan sebuah  masa yang khas dengan segala permasalahan sosial budaya yang khas pula.
Maka,generasi yang aktif pada masa itu dipaksa oleh keadaan yang khas itu, untuk merumuskan diri dan tampil menjawab tantangan  jaman yang mereka hadapi. Semua ini menjadi problem yang besar karena masyarakat  Indonesia saat itu sama sekali belum memiliki pengalaman menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Sementara itu pengalaman masyarakat Indonesia sebagai yang terjajah demikian lama dan mendalam. Ditengah semacam itu gerbang kemerdekaan yang sering disebut soekarno”jembatan emas” itu,merupakan sesuatu yang dahsyat dan menggetarkan,penuh pesona dan sekaligus mencekam. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana Indonesia nanti setelah kemerdekaan tercapai.
Di tengah latar belakang semacam itu,para sastrawan generasi 45 selain  banyak yang berjunag secara fisik dalam perang kemerdekaaan juga menyibukkan diri unutk mencoba merumuskan dan mencari  orientasi pada berbagai kemungkinan bangunan kebudayaan bagi Indonesia yang merdeka. proses menjadi bangsa yang merdeka itu sendiri  memang  bukan hanya  dimulai pada masa 40-45-an. Proses  itu telah terjadi jauh sebelumnya.
 Nama angkatan 45 sendiri, dimunculkan pertama kali oleh Rosihan Anwar pada lembar kebudayaan gelanggang  sejak itu,penamaan  yang  dibuat Rosihan Anwar dan diakui dan disepakati banyak kalangan sebagai nama angkatan sastra angaktan sastra periode 40-an. Angkatan 1945 memproleh saluran resmi melalui penerbitan  majalah kebudayaan Gema suasana,Januari 1948. Majalah ini di asuh oleh oleh dewan redaksi yang terdiri dari Asrul Sani,Khairil Anwar,Mochtar Apin, Rivain Apin dan Baharudin. Majalah ini  dicetak dan di terbitkan oleh percetakan Belanda Ophoum.   Dengan itu,para penyair  angkatan  45 mendifinisikan diri dan konsep estetik budayanya. Pendefinisian diri,di lakukan sastrawan angkatan  45 lewat pemisahan diri dan kritik keras  terhadap generasi sastra sebelumnya. Khususnya  kritik dan pemisahan diri  dengan visi  budaya yang ditegakkan Sutan Takdir Alisyahbahna.  Hal ini di tunjukkan pula dengan terbitnya kumpulan  sajak tiga menguak Takdir.
Pemisahan konsepsi   sastra  dan budaya inilah yang kemudian meragukan adanya perpisahan visi yang tegas antara angkatan 45 dengan angkatan pujangga baru. Dengan cara masing-masing,Ajip Rosidi, Subagio sastrowardojo,keith foulther mengemukakan bahwa visi dan budaya angkatan 45 masih merupakan kelanjutan visi budaya pujangga baru,khusunya Takdir Alisjabahna.
H.B. Jassin merumuskan ideology sastra angkatan 45 adalah humanisme universal. Namun Keith Foulcher menunujkkan bahwa ideology sastra angkatan 45 merupakan gambaran dari situasi politik saat itu. Foulcher yang melihat konsepsi angkatan 45 dari konstelasi politik mengemukakan bahwa:
“Dalam lapangan kesusatraan angkatan 45 adalah fenomena dikenal. Saya percaya  bahwa kelahiran dan karakternya dapat secara paling baik difahami saat ini ia di pandang terutama sebagai ekspresi budaya dari gerakan nasionalisme Indonesia aliran Syahrir”
Subagio Sastrowardojo dan Ajip  Rosidi dengan cara berbeda  menyekapati bahwa orientasi budaya  Chairil Anwar dan angkatan 45 adalah budaya barat
Sastra-sastra yang dihasilkan 45 adalah berupa semangat nasionalisme dan  kritik-kritik yang cukup  kritis  terhadap penjajah, di samping itu juga karya sastra angkatan 45 memberikan ciri yang khas tersendiri bagi sastra Indonesia moderen. Karya sastra angkatan 45 agak sedikit beda dengan karya-karya pada angkatan pujangga baru  karena karya-karya angkatan  pujangga baru kisah-kisah yang dihasilkan adalah tentang romantisme, kisah-kisah percintaan dan kisah-kisah tentang kehidupan rumah tangga.
 Para sastrawan angkatan 45 dan karya-karya angkatan 45 seperti  Khairil Anwar  dengan karyanya yang paling terkenal adalah aku, senja pelabuhan kecil, derai-derai cemara, dan dalam kereta. Idrul dengan karyanya yang paling kritis adalah kota harmoni, anak  laut. Asrul Sani karyanya  surat dari ibu. Sitor Situmorang dengan karyanya bunga,lagu gadis itali,bunga batu, sanur. Toto Sudarto Bachtiar dengan karyanya kepada peminta-minta, ibu kota senja, malam laut, tentang kemerdekaan pahlawan tak dikenal.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar