TUGAS :
FILSAFAT PENDIDIKAN
“PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN DAN MUTU PENDIDIKAN”
OLEH
MURLIATI
A1A2 08 009
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNUVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2010
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu
dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari
sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan
musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa
(mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang pengalaman
kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah
membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya." Anggota keluarga mempunyai
peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang
disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak
resmi.
Salah
satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana
meningkatkan mutu pendidikan di setiap jenjang, khususnya jenjang sekolah dasar
agar mampu bersaing di era global. Sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan
dasar dalam penyelengaraannya menggunakan manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah (MPMBS) dan sekolah berbasis masyarakat (MBS). Standar pelayanan
minimal disusun bersifat makro sehingga perlu diinterpretasikan dalam bentuk
berbagai standar. Salah satu standar yang perlu diperhatikan adalah
administrasi sekolah yang juga merupakan salah satu laporan dalam sistem
pendidikan di sekolah. (Ety ErdawatIi)
ttp://media.diknas.go.id/media/document/5700.pdf i)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok
orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan.
Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa
dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi
yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Pendidikan
adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi
fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan
dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita
kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam
keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup
kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi
mengenai masalah-masalah pendidikan.
Tujuan filsafat pendidikan
memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang
ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan
prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik
pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa
implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna
mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori
pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan
tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat
dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di
lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu
menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni
mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau
miskonsepsi pada diri peserta didik.
Beberapa aliran
filsafat pendidikan yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, misalnya,
idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme, behaviorisme, dan konstruktivisme.
Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk
membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Tujuan pendidikan
aliran ini membentuk karakter manusia. Aliran realisme berpandangan bahwa
hakikat realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya
membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki
rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Pragmatisme merupakan kreasi filsafat
dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme.
Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan
arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman sebagai alat
untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat.
Humanisme berpandangan bahwa pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak
(child centered). Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan
pembentukan moral. Paham behaviorisme memandang perubahan perilaku setelah
seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat penting. Oleh
sebab itu, pendidikan behaviorisme menekankan pada proses mengubah atau
memodifikasi perilaku. Tujuannya untuk menyiapkan pribadi-pribadi yang sesuai
dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan
masyarakat. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses
aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog,
dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah
dimiliki seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki
kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. (Sumber Buku
Filsafat Ilmu oleh Anna Poedjiadi)
B.
Mutu Pendidikan
Mutu adalah suatu terminologi
subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap
definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu
dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang
memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara
kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan
proses belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bias
berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau
mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut. (Ravi
Karsidi, 2005. http://www.uns.ac.id/data/0024.pdf)
Secara umum, mutu adalah
gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan
kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.
Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses, dan output
pendidikan.
Input pendidikan adalah
segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya
proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta
harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsunnya proses. Input sumber
daya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru termasuk guru BP,
karyawan, siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang,
bahan, dsb.). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah,
peraturan perundangundangan, deskripsi tugas, rencana, program, dsb. Input harapan-harapan
berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran- sasaran yang ingin dicapai oleh
sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung
dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur
dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input,
makin tinggi pula
mutu input tersebut.
Proses Pendidikan merupakan
berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap
berlangsungnya proses disebut input sedangkan sesuatu dari hasil proses
disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (ditingkat sekolah),
proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses yang dimaksud
adalah proses pengembilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses
pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan
evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar memiliki tingkat kepentingan
tertinggi disbanding dengan proses- proses lainnya. Proses dikatakan bermutu
tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah
(guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan dsb) dilakukan secara harmonis,
sehingganya mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable
learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar
mampu memberdayakan peserta didik. Kata memberdaykan mengandung arti bahwa
peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya,
akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta
didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan lebih penting lagi peserta
didik tersebut mampu belajar secara terus menerus (mampu
mengembangkan dirinya).
Output pendidikan adalah
merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang
dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari
kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efesiendinya, inovasinya,
kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan
mutu output sekolah, dapat dijelaskan bahwa output sekolah
dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khusunya prestasi
belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam : (1) prestasi
akademik, berupa nilai ulangan umum EBTA, EBTANAS, karya ilmiah, lomba
akademik, dan (2) prestasi non-akademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran,
kesopanan, olah raga, kesnian, keterampilan kejujuran, dan kegiatan-kegiatan
ektsrakurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan
yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan.(http://media.diknas.go.id/media/document/4146.pdf)
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan
pembahasan diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan sebagai berikut :
a.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau
sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang
dicita-citakan.
b.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi
peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar
potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.
c.
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif
yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung
oleh argumentasi yang sama baiknya.
d.
Input pendidikan adalah segala sesuatu
yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses
DAFTAR PUSTAKA
Anna Poedjiadi. Peranan Filsafat Pendidikan dalam
Pengembangan Ilmu Pendidikan http://massofa.wordpress.com/2008/01/15/peranan-filsafat-pendidikan-dalam-pengembangan-ilmu-pendidikan/
Filosofis
Pendidikan. http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_11.html
Ety Erdawati. Makalah
Administrasi Pendidikan. e71_w4t1@yahoo.co.id
Ravik
Karsidi. Peningkatan mutu pendidikan Melalui penerapan teknologi Belajar jarak
jauh
http://media.diknas.go.id/media/document/4146.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar